salat malam.
Sore itu aku bertemu dengan siteman, judulnya mau makan enak. Awalnya cuman aku dengannya lalu 2 jam kemudian yang lainnya baru datang. 2 JAM PERMIRSAH!
“kenapa sih enggak ada yang mau nolongin gue?” aku menyalahkan mereka atas kerumitan yang aku hadapi dengan penuh kerusuhan.
“you can handle it” ceunah.
aku cemberut dan tidak terima, maksudku, WHY? OH WHY? BUKANKAH TEMAN HARUSNYA BISA SALING TOLONG MENOLONG DAN BERGOTONG ROYONG?
“karena gue bisa nolongin elo, easily” jawabnya “lo mau gue tolong dari manapun bisa, I can make your life easier, easily” tambahnya “terus kalau semua sudah selesai, apa lagi? Kalau lo dapetin apa yang elo mau dengan gampang, elo akan kehilangan .. hm.. hmm.. excitement”
“tapi kalau in the end gue enggak dapet yang gue mau? Lo tega penderitaan gue berkepanjangan?” aku bertanya lagi.
“Nothing lasts forever, you said it yesterday” katanya tanpa rasa kasihan.
dia menatapku lekat lekat dan meletakkan telapak tangannya di lenganku.
“Salat, Jons…. Salat… salat malam…” katanya “tenangin hati elo, enggak usah buru buru, tanya sama Dia”
Aku terperangah lalu mengucap berupa berupa kata kasar dalam nada rendah. Dia tersenyum lalu mengatupkan kedua tangannya di dada, memejamkan mata, kemudian memakan makannya sambil tersenyum.
—J
