yonajona

  • Random
  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything

salat malam.

Sore itu aku bertemu dengan siteman, judulnya mau makan enak. Awalnya cuman aku dengannya lalu 2 jam kemudian yang lainnya baru datang. 2 JAM PERMIRSAH!

 “kenapa sih enggak ada yang mau nolongin gue?” aku menyalahkan mereka atas kerumitan yang aku hadapi dengan penuh kerusuhan.

“you can handle it” ceunah.

aku cemberut dan tidak terima, maksudku, WHY? OH WHY? BUKANKAH TEMAN HARUSNYA BISA SALING TOLONG MENOLONG DAN BERGOTONG ROYONG?

“karena gue bisa nolongin elo, easily” jawabnya “lo mau gue tolong dari manapun bisa, I can make your life easier, easily” tambahnya “terus kalau semua sudah selesai, apa lagi? Kalau lo dapetin apa yang elo mau dengan gampang, elo akan kehilangan .. hm.. hmm.. excitement”

“tapi kalau in the end gue enggak dapet yang gue mau? Lo tega penderitaan gue berkepanjangan?” aku bertanya lagi.

“Nothing lasts forever, you said it yesterday” katanya tanpa rasa kasihan.

dia menatapku lekat lekat dan meletakkan telapak tangannya di lenganku.

“Salat, Jons…. Salat… salat malam…” katanya “tenangin hati elo, enggak usah buru buru, tanya sama Dia”

Aku terperangah lalu mengucap berupa berupa kata kasar dalam nada rendah. Dia tersenyum lalu mengatupkan kedua tangannya di dada, memejamkan mata, kemudian memakan makannya sambil tersenyum.

—J

    • #talkie
    • #renjer
    • #aimless
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

ikhlas.

Tadi siang aku baca sayentifik amerikan, tentang otak yang tidak mau berhenti berpikir, seperti ketika kamu mau tidur lalu seketika pikiran tentang hujan datang, kalau besok hujan gimana? Kamu jadi enggak bisa ke sini, kalau ini gak jadi, itu juga gagal  dan dan daaaan dan tidak berkesudahan. Begitulah kira-kira kasusnya, banyak yang dijelaskan  ini dan itu dan salah satu cara untuk berhenti berpikir adalah dengan melepaskan pikiran misalnya: menulis, atau lainnya dengan –sebut-saja-curhat- atau berteriak atau masih banyak cara kompleks lainnya seperti meditasi yada yada yada.

Aku paling paham yang menulis, dengan menulis kita bisa mengurai satu persatu, kalimat perkalimat isi kepala, dan meluruskan kesimpang siuran lalu membiarkannya pergi. Mungkin karena itu orang bilang menulis adalah bagian dari terapi. Tapi intinya tetap ikhlas sih ya, itu si artikel bilang kalau kita harus menerima bahwa kita memang tidak bisa berhenti berpikir, terima bahwa kita seperti itu dan berhenti memikirkannya. Hahahahhaa *balik lagi*

 —J

    • #her
    • #susah
    • #talkie
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

society acceptable.

i stopped drinking coffee for a while, one or two weeks.

sampai suatu hari dalam ngobrol ngobrol tak biasa yang membuat aku mendelik benci pada menu minuman, yang jelata-able itu yang paling murah kopi meskipun untuk proletarian itu tergolong premium tapi apa daya… demi menjalani peran agar tetap acceptable di society aku minum kopi hari itu.

seolah tubuhku baru kenal dengan kopi, seolah riwayat hidup minum kopi bergelas gelas per hari beberapa minggu yang lalu tidak ada gunanya. aku menggigil, berdebar, dan berkeringat seperti babi yang buru buru pulang karena takut lilinnya padam.

sepanjang malam aku harus menenangkan diri dari sakit kepala.

aku tidak menyangka aku melupakan kopi secepat itu, seolah sebelumnya kita tidak saling mengenal dan dia meronta membumi hanguskan kewarasanku… oh atau mungkin dia yang lupa padaku. aku sudah biasa dilupakan, harusnya aku sudah terbiasa. pfpfreeeeft.

—J

    • #her
    • #aimless
    • #susah
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

konspirasi.

Akhirnya setelah sepanjang tahun mendengarkan cerita tentang dia, malam itu aku menjabat tangan perempuan bersepatu abu abu itu.

That was just a casual makan malam dan ngobrol ngobrol about nothing and everything, aku lebih sering menyebut “okaaaay” dengan nada rendah dan panjang. Aku tidak punya hal menarik untuk dibicarakan.

 “bagaimana?” tanyanya

“Marry her!” jawabku

Aku rasa ada konspirasi yahudi yang membuat salah satu kewajiban dan tugas pokok seorang teman adalah menilai kekasih temannya. She is cool like hell. She read Enyd Blyton’s and knew Fatty very well, pardon my shallowness… I love her as your gf then :))

—J

    • #friends
    • #them
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

polite.

actually, i was unhappy received flowers from people who did not come to my graduation ceremony. i said thanks only for being polite.

i tweet(ed) it few minutes ago.

no particular reason but… i deleted it secepat kilat.

sitemen lansung misuh misuh merasa tidak dihargai “MAU NYA APA SIH JONS?” dia melolong lolong hilang kendali.

aku cengengesan, deep down from the bottom of my heart aku suka diberi bunga or something somewhat…. setidaknya ada yang peduli, atau minimal ada yang ingat lah… itu jauh lebih dari cukup sebenernya. yahahahha. (lupakan kenyataan bahwa aku memberitahu semua orang sehari sebelumnya :D :D )

i dont know… tweet kayak gitu kesannya keren aja, alasanku.

tapi sitemen malah marah marah tak berkesudahan, dia bilang aku ini suka membuat orang merasa apa yang mereka lakukan padaku itu salah :)))). jadinya malah drama (-___-“)

tumben yaaa sitante tidak membenahi grammar seperti biasanya, hahahhaha. should i apologize? :))

haw haw haw, i am sorry tanteee. aku yang salah aku ini hina, aku kotor, aku bukan nabi yang bisa sempurnaaa :)))

—J

    • #friends
    • #susah
  • 1 month ago
  • Comments
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+
Page 2 of 130
← Newer • Older →

Portrait/Logo

About

mereka bilang hidup adalah perjalanan, aku senantiasa berusaha agar bisa bersama kamu sepanjang jalan.

Me, Elsewhere

Twitter

loading tweets…

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union