lost.
tadi udah mau ambil kuda kuda bercerita tentang makna hidup sambil mengiba iba dan tertawa, baru dua paragraf malah sesengukan lalu berdiri mengambil oksigen dengan baik dan benar, terus enggak kuat ngelanjutinnya.
tadi udah mau ambil kuda kuda bercerita tentang makna hidup sambil mengiba iba dan tertawa, baru dua paragraf malah sesengukan lalu berdiri mengambil oksigen dengan baik dan benar, terus enggak kuat ngelanjutinnya.
Tapi kita sama sama sudah cukup pintar untuk paham bahwa sekeras apapun kita berusaha bersama, semua akan sia-sia, atau kita hanyalah dua orang bijaksana yang cakap membuat kesimpulan untuk hipotesis tanpa mengujinya, atau seperti yang teman teman kita bilang, kita ini pengecut.
aku belum siap untuk menghadapi badai, sehingga aku mati matian menyamakan tekanan dengan semilir angin, melihatmu harus ikut menanggung semua keresahan ini membuat aku merasa satu satunya cara untuk tetap bisa meneruskan tawa kita tanpa melukai hati sampai berdarah-darah adalah tidak memulai apa-apa.
Hati-hati di jalan ya, jika nanti kamu melihat-lihat album fotomu ketika remaja, ingatlah aku sebagai seorang sahabat karib yang sangat sayang padamu.
I take all the blame, please make it worth..
—J
I have been talking too much about myself, I know.
Pagi itu dihadapan semangkok sereal dengan susu UHT murahan, aku mengirimkan pesan pendek pada temanku, memberitahunya kabar buruk yang mungkin akan mengguncang hidupnya, aku menyesal karena aku yang harus memberitahunya semuanya ini. Ada rasa bersalah yang membuat sempit dadaku pagi itu, harusnya aku bisa melakukan apa apa agar tidak terjadi apa-apa tapi pada kenyataannya aku tidak bisa apa-apa.
Dia membalas pesanku dengan sangat cekatan “it’s okay, Nat. pastiin kamu makan enak ya hari ini”
aku berdiam diri cukup lama sebelum akhirnya memutuskan tidak membalas pesannya. Aku menelfonnya tanpa peduli itu +6 berapa…
“I’m okay, dude” aku tertawa, seolah semuanya pantas aku tertawakan.
Life, once you were so nice… :(
malam itu gerimis seperti malam-malam lainnya, aku dari stasiun kereta pulang ke desa.
aku bersama seorang perempuan dan dua orang laki-laki, bukan.. mereka bukan temanku, tapi dari turun kereta sampai di desa kita barengan terus.
aku sendirian mendengarkan obrolan mereka.
maksudku aku harus mendengarkan obrolan mereka, karena jaraknya tidak terlalu jauh.
baiklah, salah satu dari mereka adalah anak laki-laki yang enak dilihat, jangkung dan tidak merokok, selera musiknya tidak akan membuat dia bisa menarik perhatian siapa-siapa kurasa, tas ransel hitam besar, sepatu gunung dan earphone, suara serak dan berat. dia bicara dengan aksen batak yang tidak bisa dipungkiri,
mereka bicara tentang salah seorang teman mereka yang meninggal karena sakit, dia bilang dia sedang terbang ke luar kota waktu temannya kritis.
dua anak laki-laki itu bicara sepanjang jalan dengan tanpa rasa sedih mengingat salah seorang temannya telah tiada.
“dia sudah siap kok” kata si anak laki laki “salatnya rajin, enggak pernah bolong bolong, enggak kayak kita” mereka tertawa.
oh, aku mangut mangut karena sibatak ini muslim *seret ke penghulu*
mereka mengingat temannya dengan riang gembira, rasa optimis bahwa temannya sudah bahagia entah di mana. mereka tidak sedih dan mendramatisir keadaan, hmmm kalau aku jadi mereka aku akan berkaca kaca seolah semuanya tidak pada tempatnya.
cara anak laki-laki bicara mengejutkanku.
siapapun kamu yang pernah berbulan bulan di rumah sakit dengan selang oksigen dan akhirnya Tuhan memulangkanmu…
if i were you, i would be very happy when people remember me like they did. i hope you’re well.. your friends love you.
—J
For the last 10 minutes you looked like a diehard fan of your country, Jons” he said.
loading tweets…